Memasak “Jangan Santen” untuk Pertama Kalinya ^^

Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dalam dunia memasak saya, seperti judul di atas , hari ini saya berhasil memasak “jangan santen” untuk pertama kalinya.
Tahu “jangan santen”??? Ini adalah masakan yang memakai santan untuk kuahnya, isinya tergantung yang masak, bisa pepaya muda, tahu, tempe, dan masih banyak lagi, kalau orang jawa biasanya menyebutnya “jangan santen”. Santen itu santan ^^.
Jangan santen adalah masakan yang tidak pernah saya masak, selain ribet, masih harus mmemarut dan memeras kelapa, saya juga belum pd alias percaya diri membuat bumbunya, hingga tadi pagi memberanikan diri untuk mencoba, dan hasilnya cukup lumayan rasanya bagi seorang pemula seperti saya, besok-besok masak lagi, ye…. Akhirnya “jangan santen” bisa saya takhlukkan ^^.

Bumbunya saya tidak pakai ribet kok, atas saran ibu mertua saya, bumbunya hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah, lengkuas, kunir, cabai rawit tidak usah diuleg dibiarkan utuh saja biar bisa jadi options yang pengen pedes, dan daun jeruk atau daun salam , ya jangan lupa bahan yang mau dimasak bisa tempe atau tahu, minyak goreng buat menumis bumbu, dan air santan hasil perasan dari kelapa yang diparut, kalau tidak ada bisa pakai santan instan ^^.
Selamat mencoba 🙂

Belajar Memasak ^^

Belajar memasak adalah kegiatan yang hampir pasti dilakukan oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan yang pengen bisa masak.

Kapan tepatnya kamu belajar memasak???

Saya… Hmmmm

Dulu waktu masih duduk di bangku SD, ibu sudah sedikit demi sedikit mengajari saya memasak. Dari kegiatan yang sederhana seperti menyalakan api di pawon dengan kayu, yang memang selalu memerlukan keahlian khusus, terutama jika musim hujan dimana kayu yang disimpan di belakang rumah jadi lembab dan sulit dinyalakan, sampai memasak nasi dengan berbagai macam metode, cieee metode, cara lebih tepatnya ^^. Ada istilah adang, ada istilah ngroncong, dan ngetim nasi, kesemuanya sudah saya pelajari ketika duduk di bangku SD, ketika ibu sedang sibuk di luar rumah dan di rumah nasi sudah habis, biasanya setelah tidur siang saya mulai menyalakan api di tumang, seneng rasanya jika ada ranting kayu kecil-kecil, karena biasanya ranting kecil itu mudah dibakar dan api bisa cepat menyala, proses memasak bisa lebih cepat. Ya, saat itu kompor gas masih tergolong barang mewah, dan ibu termasuk orang yang belum punya kompor gas saat itu, seperti juga tetangga-tetangga juga sebagian besar ibu-ibu di desa saya saat itu, karenanya tumang dan kayulah yang jadi hal pokok yang harus ada dalam memasak.

Tapi, proses belajar memasak terhenti saat masuk bangku sekolah menengah pertama, karena saya tinggal berjauhan dengan orang tua, dan urusan masak diwakilkan ke para penjual nasi bungkus, juga nasi piringan, meski sesekali masih memasak, masak mie instan tepatnya, tetep saja kemampuan saya memasak terhenti di situ, tanpa diasah dan masih sedikit, hingga pantaslah saya menyebut diri sebagian seorang yang belum bisa masak.

Lanjut ke masa SMA, di masa ini ternyata saya dipertemukan lagi dengan dunia memasak, karena saya tinggal di pesantren dimana santrinya biasa memasak makanan sendiri, karena memang tidak ada yang menjual nasi bungkus di sekitar pondok, mungkin karena jumlah santrinya yang tidak terlalu banyak, juga sambil melatih santriwati terbiasa dengan pekerjaan sehari-hari yang berhubungan dengan dirinya sebagai seorang perempuan.

Saat itu saya mulai belajar cara membuat tumis, dan review belajar masak nasi ^^.

Selanjutnya adalah masa kuliah, dan saya benar-benar absen yang namanya belajar masak, kuliah sudah sibuk (sok buk menyibuk), dan lagi di asrama sudah disediakan nasi untuk makan, jadi tidak perlu repot memasak, tapi efeknya adalah aku balik lagi tidak bisa masak.

Dan saat menikahlah saya benar-benar belajar memasak, meski baru bener bisa dikatakan suatu masakan hasil memasakku baru setelah sekitar 3 tahun usia perniakahan… Lama sekali belajarnya, ya sampai sekarang pun masih terus belajar.

Ya, semua butuh proses ^^. Terus belajar 🙂