Belajar Memasak ^^

Belajar memasak adalah kegiatan yang hampir pasti dilakukan oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan yang pengen bisa masak.

Kapan tepatnya kamu belajar memasak???

Saya… Hmmmm

Dulu waktu masih duduk di bangku SD, ibu sudah sedikit demi sedikit mengajari saya memasak. Dari kegiatan yang sederhana seperti menyalakan api di pawon dengan kayu, yang memang selalu memerlukan keahlian khusus, terutama jika musim hujan dimana kayu yang disimpan di belakang rumah jadi lembab dan sulit dinyalakan, sampai memasak nasi dengan berbagai macam metode, cieee metode, cara lebih tepatnya ^^. Ada istilah adang, ada istilah ngroncong, dan ngetim nasi, kesemuanya sudah saya pelajari ketika duduk di bangku SD, ketika ibu sedang sibuk di luar rumah dan di rumah nasi sudah habis, biasanya setelah tidur siang saya mulai menyalakan api di tumang, seneng rasanya jika ada ranting kayu kecil-kecil, karena biasanya ranting kecil itu mudah dibakar dan api bisa cepat menyala, proses memasak bisa lebih cepat. Ya, saat itu kompor gas masih tergolong barang mewah, dan ibu termasuk orang yang belum punya kompor gas saat itu, seperti juga tetangga-tetangga juga sebagian besar ibu-ibu di desa saya saat itu, karenanya tumang dan kayulah yang jadi hal pokok yang harus ada dalam memasak.

Tapi, proses belajar memasak terhenti saat masuk bangku sekolah menengah pertama, karena saya tinggal berjauhan dengan orang tua, dan urusan masak diwakilkan ke para penjual nasi bungkus, juga nasi piringan, meski sesekali masih memasak, masak mie instan tepatnya, tetep saja kemampuan saya memasak terhenti di situ, tanpa diasah dan masih sedikit, hingga pantaslah saya menyebut diri sebagian seorang yang belum bisa masak.

Lanjut ke masa SMA, di masa ini ternyata saya dipertemukan lagi dengan dunia memasak, karena saya tinggal di pesantren dimana santrinya biasa memasak makanan sendiri, karena memang tidak ada yang menjual nasi bungkus di sekitar pondok, mungkin karena jumlah santrinya yang tidak terlalu banyak, juga sambil melatih santriwati terbiasa dengan pekerjaan sehari-hari yang berhubungan dengan dirinya sebagai seorang perempuan.

Saat itu saya mulai belajar cara membuat tumis, dan review belajar masak nasi ^^.

Selanjutnya adalah masa kuliah, dan saya benar-benar absen yang namanya belajar masak, kuliah sudah sibuk (sok buk menyibuk), dan lagi di asrama sudah disediakan nasi untuk makan, jadi tidak perlu repot memasak, tapi efeknya adalah aku balik lagi tidak bisa masak.

Dan saat menikahlah saya benar-benar belajar memasak, meski baru bener bisa dikatakan suatu masakan hasil memasakku baru setelah sekitar 3 tahun usia perniakahan… Lama sekali belajarnya, ya sampai sekarang pun masih terus belajar.

Ya, semua butuh proses ^^. Terus belajar ๐Ÿ™‚

Iklan

Karena Kesiangan ^^

Beginilah jika setelah bangun pagi trus tidur-tiduran dan kejadiannya malah tidur beneran, saat lihat jam dinding eh jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB, belum masak nasi…

Begitu bangun langsung aja mengambil berasa dan menanaknya di dalam dandang, jika masak jam 05.30 an lebih berarti mengangkatnya alias matangnya sekitar 07.30 an lebih. ^^

Langsung bergerak cepat sambil berpikir masak apa hari ini??? Dan yang muncul adalah “mie”… belanja ke tempatnya mbak puji hanya mengambil tahu, tempe, pre, tomat, dan sawi untuk campuran mie.

Sampai di rumah langsung mengaduk-aduk telur, menggorengnya. Tahu tempe nya juga langsung ku goreng… Setelah itu mengangkat nasi memasak mie, dan menggoreng cabai untuk pecek tempe…

Dan jadilah menu hari ini, mie goreng sawi, tahu goreng, telur dada, pecek tempe, dan sambel bajak…

image

Menu sarapan hari ini ^^

^^

Ikhlas Apa Tidak???

Pengertian ikhlas, seperti yang dulu disebutkan dalam buku PPKn saat sekolah, adalah berbuat suatu kebaikan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Ya itu definisi ikhlas yang sering kita pelajari saat sekolah, kalau dalam hal beribadah, definisinya kurang lebih sama, penjabaran lebih lengkapnya bisa bertanya pada google search atau membuka buku-buku yang membahas itu, karena yang ingin saya tuliskan setelah ini adalah sebuah cerita, bukan definisinya ^^.

Saya pernah membaca atau mendengar sebuah cerita saat duduk di bangku kelas dasar dulu (entah membaca atau dapat dari cerita Pak Guru saya lupa, yang jelas saya sangat ingat cerita ini). Banyak contoh perbuatan ikhlas jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang sering kita jumpai tiap hari, menolong orang tanpa minta ongkos (kalau minta ongkos bantuin orang kelihatan sekali kalau orang itu perhitungan sangat ^^).

Kembali lagi pada cerita, sebuah pertanyaan sebelum cerita dimulai, misalnya kamu mengadakan acara pengajian di rumah, dan masak banyak sekali, eh ujung-ujungnya yang datang hanya sedikit, dan makanan yang kamu siapkan jadi nganggur alias gak kemakan (kecuali kalau kemudian dibagi-bagikan ke tetangga), bagaimana perasaanmu kala itu??? Saat memasak banyak dan enak buat keluarga, dan ternyata makanannya gak kemakan karena ternyata kita sekeluarga diundang ke hajatannya tetangga, dan di sana kita dijamin makan seharian, gmn perasaannmu??? Ya biasa sajalah… Lebay banget sepertinya kalau pertanyaan itu dibahas di sini…

Tapi bener yang sering kejadian (sering terjadi di sekiat kita) adalah saat menyiapakan makanan untuk hajatan di rumah (misalnya arisan atau pengajian) yang jumlahnya pasti sejumlah perkiraan kita pada seluruhnya yang akan datang, jika tidak takut kurang saat dibagikan. Dan ternyata yang datang hanya beberapa, itu membuat makanan yang kita siapkan jadi seperti sia-sia… (Sia-sia jika kita gak ikhlas… Begitu penjelasannya ^^).

Jadi, setelah kita menyiapkan makanan dengan begitu banyaknya, yang harus kita lakukan adalah menyerahkan kejaidan setelahnya kepada Alloh, ya kalau perkiraan kita sesuai, kita pasti seneng, karena persiapan kita tidak sia-sia. Dan jika ternyata yang datang di bawah perkiraan kita, kita juga gak perlu kecewa.

Menu Masakan

Menu masakan…

Sesuatu yang sangat penting dan memang bagian dari keseharian sebagai ibu rumah tangga yang tiap hari “memasak”.

Menu masakan menjadi sesuatu yang kadang membuatku berpikir keras, bagaimana menu hari sekarang dan kemarin beda, intinya gak membuat bosen suami. Jadi, tiap hari sambil berjalan menuju ke tempat belanja sayur aku kadang sambil berfikir menu apa untuk hari ini ya???… Terkadang sepanjang berjalanan gak nemu ide juga, hingga tiba di tempat belanja, baru nemu ide. Terkadang juga segala rencana untuk masak menu tertentu terpaksa batal, karena pas tiba di tempat belanja eh bahan-bahannya gak ada… Sedikit kecewa… Tapi tetep harus punya opsi masak apa dengan bahan yang ada, kadang ini terjadi ketika aku kesiangan ke tempat belanja…

NB: mulai nulis kembali, setelah beberapa hari gak posting di blog

Nasi Goreng ^^

Nasi goreng…

Salah satu masakan kesukaan suamiku ^^, kalau masak nasgor pasti maemnya banyak, meski kadang rasanya menurutku kurang enak… (Maklum yang buat masih amatiran ยป tunjuk ke diri sendiri ^^).

Menghadapi masakan gak enak, suamiku biasanya gak banyak komentar, dia kadang cuma bilang, “kok gak kayak masak’annya emak ya??…” Tapi satu kalimat itu bikin aku tersinidir sangat… Dibandinkan kok sama emak, ya kalah jauh lah… Secara jam terbangnya emak dalam dunia masak memasak sudah sangat tinggi, lha aku… masih amatir.

Bicara tentang nasi goreng… Biasanya kalau sangat kepengen nasgor dan aku malas banget yang namanya ngulek bumbu, suamiku beli di temannya yang kebetulan jualan di deket rumah, rasanya ya mesti enak lah, lha jualan berarti kan sudah berani menjual rasa ke pelanggan. Tapi, beberapa hari ini jarang beli karena nasi gorengku rasanya sudah lumayan, dan ngomong2 malam ini untuk makan malamnya suamiku sudah 3 kali imbuh (ngambil nasi). Senengnya… Kalau masakan rasanya “lumayan” apalagi “enak” ^^.

Mau tahu cerita tentang nasi goreng buatanku…

Mbakku kadang nyaranin buat memakai bumbu instan yang kemasan itu… Aku nyoba sekali sendiri, dan rasanya beneran kayak banyak MSG itu… (*lebay). Ya kalau mbakku yang masak rasanya bisa enak, gak tahu kenapa, tapi pas aku yang masak bisa gitu rasanya… Padahal sudah ku turuti sarannya mbak, buat ngasi bawang puting dulu… (Yang dihancurkan). Jadi, karena nasi gorengku rasanya menurutku jadi makin aneh pakai tuh bumbu… Aku putuskan untuk ngulek sendiri… Ya meski harus sedikit melawan rasa malas… (Secara malam2 ngulek gitu… *biasasajagakusahlebay).

Kemari pas nasi tinggal dikit, ya memang sengaja masak nasinya gak banyak-banyak, biar gak banyak sisa pas malam (soale gak terbiasa memakai penghangat nasi, bahkan masak nasinya pakai dandang biasanya). Nah, suami pengen banget nasi goreng, saat mau mebuat nasi goreng eh tiba-tiba cabe merah besarnya gak ada… Hmmm dan akhire cuma pakai bawang merah putih (bawang merah dan bawang putih maksudku) saja, diulek pakai garam dan sedikir gula… Setelah halus, aku nyiapin wajang, mengorak-arik telur untuk campuran nasgor, habis itu meniriskannya. Dan masak nasi goreng seperti biasanya, dikasi kecap… Sama lombok yang diutuhkan (cabe kecil), kalau lomboknya dihaluskan anakku yang masih kecil gak mau, karena pasti pedas rasanya.

Nah, dengan bumbu seadanya itu, ternyata rasa nasi gorengku lumayan… Dan 2 hari kemudian juga 2 hari berturut-urut jadi pengen nasgor terus suamiku… ^^

Senengnya bisa masak nasgor enak… ^^

NB: pengen ngasi gambar, tapi lagi-lagi aplikasi WP di BB lagi gangguan…