Drama “Sky Castle” dan Cara Pandang dalam Mendidik Anak

Jarang-jarang nemu drama korea langsung klop dengan jalan ceritanya tanpa lihat siapa pemainnya. Karena salama ini tiap nonton drama yang jadi daya tarik pertama pasti pemeran utamanya.

Sebenarany nonton drama ini beberapa bulan lalu barengan dengan waktu tayang drama ini di negaranya, tapi baru posting sekarang.

Drama ini menceritakan tanteng kehidupan keluarga kaya dan terpandang dalam mendidik anak-anak mereka. Jadi, ceritanya di perumahan dosen para dosen-dosen ini berlomba-lomba untuk memasukkan anak mereka ke universitas terbaik di Korea, dan itu berefek pada anak-anak mereka yang harus les tiada henti, padahal anak mereka punya keinginan dan impian sendiri. Ada seorang anak yang stress karena hal itu, dengan dibantu guru lesnya yang ternyata mempunyai misi yang jahat, di hari anak itu diterima di Universitas keinginan orang tuanya di hari itu ia meninggalkan rumah dengan meninggalkan surat untuk orang tuanya yang isinya adalah “betapa tertekannya” ia selama ini, setelah membaca surat itu ibunya yang merasa bersalah akhirnya bunuh diri.

Dimulai dari peristiwa di bunuh diri seorang ibu itulah drama ini dimulai, ternyata keluarga yang tampak sempurna di luar mempunyai masalah dengan anaknya yang dibanggakan selama ini, sesuai dengan soundtracknya yang judulnya “We All Lie”, banyak keluarga dan hampir semuanya melakukan kebohongan seolah-olah keluarga mereka yang paling sempurna, padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini kan???

___________________________________________

Orang tua pasti senang sekali kalau anaknya berprestasi. Meski begitu sekali waktu meskipun anak pintar dan berprestasi pun pernah turun nilainya, beberapa orang tua ada yang memakluminya menggapnya hal biasa, namun beberapa orang tua akan lebih menambahkan lagi porsi belajar anak.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik yang mempunyai pikiran terbuka. Ada sebuah dialog di drama “Sky Castle” ini yang kurang lebih isinya begini

“Apa ada orang tua yang mendidik dan menyekolahkan anaknya, menjadikan anaknya nomer satu, hanya untuk menyembongkan diri (kalau punya anak pintar) di depan teman-teman orang tuanya …”

Kalau anak kita berprestasi pasti pengen kita tunjukkan kepada dunia (kalau bisa) kalau kita mempunyai anak yang membanggakan, tapi kalau orang tua mau melihat lebih dekat “untuk apa itu semua?”

Saya juga sedang belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik, kalau bisa tidak membebani anak saya dengan keinginan pribadi saya agar ia jadi juara, kalau ia mampu bisa jadi juara, saya senang, dan kalaupun tidak asalkan ia bisa senang dalam proses belajarnya di sekolah itu sudah cukup membuat saya sangat senang.

Drama “Sky Castle” sedikit banyak membuat saya melihat bagaimana orang tua harusnya bisa menerima dengan lapang kelebihan dan kekurangan anak, selalu mendengarkan dan melibatkan anak dalam rencana masa depan mereka.

Bersyukur

Saya memang jarang sekali update blog, karena memang sibuk di dunia nyata dan juga sedang seneng-senengnya menghabiskan waktu luang dengan lihat youtube… ^^

Kapan hari dipertemukan dengan beberapa vlog yabg bagus banget menurut versiku… Tiap nonton rasanya selalu diingatkan untuk bersyukur dengan apa-apa yang ada di sekitar kita dengan apa-apa yang sudah kita miliki… Hal-hal kecil yang ada dalam hidup kita sesungguhnya selalu patut kita syukuri karena semuanya istimewa. ^^

Hal-Hal Kecil

Hal-hal kecil yang kadang luput dari perhatian.

Seperti biasa, tiap pagi, saya memasak untuk sarapan, nah pada waktu mengiris bumbu ternyata pisaunya tidak tajam, tapi tetep saya pakai karena memang belum bisa mengasah pisaunya saat itu juga (karena terburu2), “nanti sehabis masak mengkin akan saya asah” , niat dalam hati saya. Nah pada waktu ngiris bawang daun pisaunya mengani tiga jari saya, karena tidak tajam hanya mengenai satu jari dan itu pun tidak sampai dalam dan berdarah, coba kalau pas mode tajam pasti ketiga jari saya sidah luka cukup dalam dan berdarah pastinya.

Mungkin ada hal-hal yang seperti kejadian di atas dalam hidup. Kita gagal dalam suatu tapi kegagalan itu justru menuntun kita ke hal yang lebih besar, sebuah kejadian yang tidak menyenangkan ternyata menuntun pada hal yang menyenangkan hati kita lainnya.