Memasak “Jangan Santen” untuk Pertama Kalinya ^^

Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dalam dunia memasak saya, seperti judul di atas , hari ini saya berhasil memasak “jangan santen” untuk pertama kalinya.
Tahu “jangan santen”??? Ini adalah masakan yang memakai santan untuk kuahnya, isinya tergantung yang masak, bisa pepaya muda, tahu, tempe, dan masih banyak lagi, kalau orang jawa biasanya menyebutnya “jangan santen”. Santen itu santan ^^.
Jangan santen adalah masakan yang tidak pernah saya masak, selain ribet, masih harus mmemarut dan memeras kelapa, saya juga belum pd alias percaya diri membuat bumbunya, hingga tadi pagi memberanikan diri untuk mencoba, dan hasilnya cukup lumayan rasanya bagi seorang pemula seperti saya, besok-besok masak lagi, ye…. Akhirnya “jangan santen” bisa saya takhlukkan ^^.

Bumbunya saya tidak pakai ribet kok, atas saran ibu mertua saya, bumbunya hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah, lengkuas, kunir, cabai rawit tidak usah diuleg dibiarkan utuh saja biar bisa jadi options yang pengen pedes, dan daun jeruk atau daun salam , ya jangan lupa bahan yang mau dimasak bisa tempe atau tahu, minyak goreng buat menumis bumbu, dan air santan hasil perasan dari kelapa yang diparut, kalau tidak ada bisa pakai santan instan ^^.
Selamat mencoba 🙂

Cerita tentang Persalinan Putri Kedua Saya

Pengen nulis ini sejak Si Adik lahir, tapi karena sibuk banget jadi ibu dua putri kecil, jadilah baru sempat posting.
Cerita tentang proses kelahiran puteri pertama kami, mungkin akan saya posting setelah ini, saya akan memposting ini dulu karena mungkin cerita tentang persalinan anak saya yang pertama juga akan muncul di sini.
Kahamilan kedua memang sudah saya rencanakan dengan suami, dan memang saya tidak memakai alat kontrasepsi apa pun sejak menikah sampai anak saya yang pertama lahirpun, jadi memang yang kedua kapan pun Allah memberi titipan insyaAlloh siap,  dan akhir tahun tahun kemarin saya benar-benar hamil. 

Hamil yang kedua ini pun tidak begitu rewel, hanya saja saya agak sensitif dengan bau parfum, biasanya jika menghirup aroma itu langsung mual. Dari makan dan lain-lain saya tidak pilih-pilih, hanya terkadang ngidam ingin sesuatu, yang paling saya ingat itu pas ngidam wedang ronde, suami langsung tanya teman-temannya juga saudara kira-kira di wilayah Jember mana yang jual wedang ronde. Dapat rekomendasi dari seorang temannya ada yang jual wedang ronde di daerah ini (tidak saya sebutkan tempatnya karena ini bukan iklan, hehehe…) dan waktu beneran beli rasanya tidak seperti yang saya bayangkan, enak tapi tidak seperti wedang ronde yang saya mau, wedang ronde yang saya mau itu wedang ronde yang pernah saya makan pas masih di Bogor dulu, rasanya khas bangettt… Kangen Bogor mungkin jadi pengen yang rasa Bogor masakannya.

Kembali lagi ke cerita proses persalinan, dari menghadapi proses persalinan anak pertama dulu saya belajar bahwa yang paling penting dalam mempersiapkan proses persalinan ada keadaan psikologis ibu, persiapan lain juga penting tapi itu yang paling penting menurut saya. 
Perkiraan persalinan saya kemarin adalah akhir bulan Juli, karena perut saya kecil dan hasil USG perkiraannya awal Agustus saya tenang-tenang saja waktu tanggal sudah masuk angka pikiran (20 an ke atas), sampai kemudian waktu hari Senin pagi mulai keluar bloodslim (lendir bercampur darah) setelah sebelumnya waktu malam terasa kontraksi meski tidak sering. Saya ke bidan, dan waktu diperiksa sudah buka 2, saya pulang saja karena kontraksi masih jarang, detak jantung janinnya juga bagus. Pengalaman anak pertama dulu dari mulai buka 2 di hari Jum’at baru lahir pada hari Rabu, maka saya tenang saja saat itu. Sambil menunggu kontraksinya semakin sering saya tetap melakukan aktifitas seperti biasa, mencuci baju, masak, dll, hingga kemudian Rabu malam terasa semakin sering kontraksi, ketika di periksa sudah buka 3, saya tidak pulang dan menunggu di tempat persalinan (bidan) karena dengan pertimbangan kemungkinan saya akan melahirkan malam itu, jadi malam itu saya Melawati malam yang terasa sangat panjang, lewat jam 12 malam masih belum lengkap juga pembukaan, sekitar pukul 01.00 dini hari masih pembukaan 5. 
Oh iya malam hari sambil nunggu lahiran itu, menikmati kontraksi saya masih sempet minum es jus, bahkan cemilan masuk daftar hal yang harus saya bawa dalam persiapan persalinan bareng dengan peralatan bayi. Biar tidak tegang dan terasa santai menunggu proses persalinannya, saya hanya berdua saja dengan suami, ya sambil ngobrol makan cemilan serta es jus ^^, serasa kayak piknik menjelang persalinan, hehheee… Apapun namanya yang penting mengurangi rasa sakit dan tegang menjelang persalinan.

Dan pagi harinya Putri saya Alhamdulillah lahir dengan normal dan sehat. Barulah kemudian keluarga datang, sambil jemput siang harinya . 
Demikianlah sedikit cerita dari saya saat proses persalinan kemarin, saya selalu punya anggapan bahwa dari ibu mengandung, menjelang persalinan, sampai menyusui haruslah dalam kondisi yang nyaman, dan itu tentu harus dipersiapkan, dalam hal ini saya juga masih belajar . 

Semoga bermanfaat ^^.

Begadang Part 2

Baru kapan hari cerita kalau saya sudah tidak akrab lagi dengan yang namanya begadang, dan karenanya saya juga tubuh saya sudah tidak terbiasa dengan itu.
Dan tadi malam benar-benar merasakan apa yang namanya begadang, karena Putri kedua saya, Adek Ain sedang flu, dan sebelumnya malam Jum’at manis tadi malam saya ajak keluar di depan gang, jalan-jalan, kalau kata para orang tua memang malam Jum’at manis agak mistis, bisa jadi anak kecil terlebih bagi yang belum punya gigi (katanya kalau belum lepas gigi susunya, anak kecil sering kelihatan mahkluk halus, nah apalagi yang gigi susu nya belum tumbuh). Jadi wes tadi malam Mama dan ayahnya begadang, saya baru tidur sekitar jam setengah 2 pagi, jam 4 an adik sudah bangun, total tidur sekitar 2,5 jam an, saya ngantuk pagi harinya, tapi karena bukan hari libur saya harus tetep bangun untuk masak buat yang kerja dan yang sekolah. Setelah kerjaan pagi hari selesai dari masak hingga mengantar anak sekolah saya akhirnya bisa ketiduran sebentar saat menidurkan si adik, badan rasanya capek semua, meriang, mau muntah seperti orang masuk angin. 
Kondisi badan yang terasa capek itu berlangsung hingga sekarang, mau tidur lagi dari si adik bangun sudah hampir gak bisa. Sudah di pejamkan mata ini, tetep aja susah tidur. Seperti itu rasanya jikalau tidak terbiasa begadang, terus begadang.
Lain kali insyaAlloh akan tidur lebih awal.

NB: sejak lahir hingga sekarang umur 5 bulan lebih Dek Ainayya, Putri kedua saya, memang hampir tidak pernah rewel. Saat masih baru lahir, kalau tidak saya bangun in untuk menyusu tiap 2 jam ya tetep tidur, kalau malam memang pules banget tidurnya, baru tadi malam perdana flu dan hidungnya buntu, jadilah rewel…

Begadang…

Begadang adalah hal yang memang sudah akrab bagi saya yang memang senang sekali melek an di malam hari (biar meski bahasanya mbulet).
Dulu belum nikah suka begadang, nonton film di televisi, film-film manca seperti Harry Potter biasanya memang tayang sampai malam. Setelah menikah juga masih suka begadang, kadang nungguin suami pulang lembur atau juga masih tetep nonton film di tv bareng suami, sudah punya anak juga masih suka, tapi lebih banyak karena anak bangun. Waktu anak sudah agak besar biasanya saya gunakan waktu begadang buat membaca buku.
Sekarang setelah anak kedua saya lahir pengen juga tetep bisa begadang membaca buku kesukaan, tapi sepertinya sudah tidak bisa sesering dulu, lebih banyak kebablasan an tidur, mungkin karena sekarang sudah lumayan capek dengan kerjaan bejibun saat siangnya, malam pengen baca-baca malah tidur. Alhasil saya sepertinya sekarang sudah tidak akrab lagi dengan yang namanya begadang.