Sebuah Cerita

Mengutip salah satu kalimat yang saya temui di drama korea favorit saya, “Dream High”

“Kata orang ada 2 jenis kebahagiaan Di dunia ini. Satu Kebahagiaan yg kau sadari ketika sudah berlalu, dan yang kedua kebahagiaan yang kau rasakan saat itu juga.”

………….

2 bulan belakangan ini adalah hal yang luar biasa bagi saya. Jika dipikirkan entahlah rasanya tak terbayangkan melewati banyak hal, yah meskipun itu terdengar hal yang sangat berlebihan jika saya mengungkapkan begitu. Tapi, bagi saya tetep saja tidak biasa dan amazing bingit ^^.

Abah dan Ibuk berangkat ke tanah suci bulan Agustus akhir, dan di rumah diadakan pengajian di hari yang telah diberitahukan oleh Abah sebelumnya, yang berarti itu tidak setiap hari, 3 hari saat perjalanan berangkat ke tanah suci, 5 hari saat Idul Adha, dan 3 hari saat perjalanan pulang. Dan itu semua memiliki banyak cerita, yang sayang jika dilewatkan begitu saja ^^.

3 hari pertama saat Abah Ibu berangkat, pengajian hari pertama budhe yang masak, kare, saat malam sisa kare diangeti di atas wajan, dan paginya hal mengejutkan terjadi, daging ayam yang jadi isinya kare sudah berceceran di lantai, jadi santapan kucing liar yang masuk lewat lubang ventilasi rumah. Hari kedua ketiga ALHAMDULILLAH peristiwa serupa tidak terjadi, dan acaranya berlangsung lancar. Tapi, saya cukup sangat kecapek’an karena sehari sebelum Abah Ibu berangkat saya sempet begadang, hanya tidur satu jam’an, jadilah capek melanda setelahnya.

Pengajian saat Idul Adha juga punya banyak cerita, karena diadakan sejak Hari Arafah, 8 DZulhijah, maka saat Idul Adha saya masih ada di rumah Ibuk Abah, malam takbir suami belum bisa nemenin, setelah sholat Ied baru bisa datang, tapi ada adik-adik sepupu yang nemenin, it’s amazing, rumah yang biasanya hanya ada saya, Nay, Lek Nung, sama adik tercinta, Dani, jadi ramai dengan adik-adik kecil yang gak ada bosennya bermain ^^, karena sangat banyak dan sepeda motor hanya satu, jadilah malam takbiran di rumah saja, padahal di jalan besar ada acara takbir keliling ^^. Itu adalah malam takbir yang sangat istimewa, dimana kecerian terpancar di wajah kami semua, adik-adik yang ceria bermain-main, dan saya yang senang sekali melihat keceriaan mereka. ^^

5 hari itu saya jadi akrab sekali dengan rumah mbah putri, rumah budhe, pasar, memikirkan ide “masak apa hari ini???”. Ada peristiwa yang sangat melekat pada benak saya saat itu, ketika budhe ditanyai, enaknya esok hari masak apa? Biar yang ngaji gak bosen dengan masakan yang kita buat? Jawabanya itu lho membuat saya jadi ingat terus, “wes turu sek, sesok dipikir sesuk, wong turu ae durung wes mikir sesok…” (Sudah tidur dulu, besok dipikir besok, tidur saja belum sudah mikir besok). Ya, saya bisa mengambil pelajaran dari hal ini, “terkadang kita merisaukan apa yang akan terjadi besok, padahal hal itu hanya perlu dijalani.” ^^ #sokbijak

Setelang pengajian 5 hari itu beberapa hari kemudian pengajian lagi menjelang kepulangan ibu dari tanah suci. Dan dari sinilah saya merasakan apa itu punya “gawe”, ya meski sebenarnya sebagian besar telah diambil alih oleh Budhe juga Mbah Uti, tapi tetep saja saya jadi artis dadakan yang dicari banyak orang, untuk banyak hal ^^.

Saya banyak belajar dari ini semua, kebersamaan dengan saudara-saudara saat repot itulah kebahagian yang baru bisa saya rasakan setelahnya, ribet dan melelahkan memang tapi memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sudah terbiasa dengan semua itu meski dalam waktu yang tidak lama, membuat saya kadang merindukan kebersamaan itu. Suatu kerepotan yang dikerjakan bersama terasa tidak terlalu berat.

Gebang, 12 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s