[CERPEN] Terima Kasih Bunda

Cerpen yang pertama kali saya publikasikan ^^

—————————————-

Pulang sekolah Danu menaruh sepedanya di garasi rumahnya, sebelum masuk rumah tidak lupa ia mengucapkan salam. Melihat ayahnya yang sedang duduk di meja ruang tamu, menjawab salam, ia segera mencium tangannya.

“Mbak Kiran sudah pulang Yah???!!!”, tanyanya.

“Belum, katanya ada Les sepulang sekolah…, kenapa tumben-tumbennya nanya Mbak Kiran sudah pulang apa belum…???” Pak Harto, ayah Danu bertanya dengan heran.

Danu duduk di samping ayahnya dengan seragam yang sepertinya belum pengen segera diganti juga wajah masamnya, “Yah… Gak da yang masakin Danu donk… Padahal Danu pengen banget ayam goreng yah… Kapan Bunda datang Yah, tahu gitu Danu ikut Bunda ke rumah eyang saja…”

“Ya masak sendiri Nu, tuh ayamnya kan sudah beli tadi pagi Mbak Kirannya, tinggal goreng saja, wong bumbunya juga sudah ada…”, ayah dengan senyum-senyum memberi saran…

“Males ah Yah… Biasanya juga Danu tinggal makan, kenapa gak digoreng sekalian tadi pagi sichhh… Kan enak, pulang sekolah Danu tinggal makan… “, masih menggerutu, Danu menyampaikan protesnya ke Ayah.

“Biar anget pas makan, tadi juga Ayah yang nyuruh Mbak Kiran supaya daging ayamnya digoreng sebagian saja… Sebagian yang dibuat makan siang disimpan di kulkas, biar nggak sisa, jadi nggorengnya pas mau makan saja, Bunda sedang nggak di rumah gini, waktu buat kamu Nu, buat belajar mandiri, nggak dikit-dikit, bunda… Bunda…”, Ayah menasehati Danu sambil tersenyum, “Ya sudah sana Nu, kamu ganti baju, cuci tangan dan kaki, sudah sholat dzuhur kan tadi???!!! Ayah mau kembali ke toko sekarang, sudah ditunggu Kang Maman, jangan lupa Nu, bak kamar mandi dikuras, sama bersih-bersih rumah ya… Mbak Kiran agak sorean pulangnya, gantian ngerjain kerjaan rumahnya, kasihan kalau Mbak Kiran sendiri…” Pak Harto pergi keluar rumah meninggalkan Danu yang masih belum selesai dengan rasa kesalnya harus mengerjakan beberpa pekerjaan rumah, karena Bundanya yang biasanya mengerjakan hampir semua kerjaan rumah, sedang pergi ke rumah eyangnya di luar kota yang sedang mengadakan hajatan. Danu dan Kiran tidak turut serta karena memang pelajaran di sekolah tidak bisa ditinggal begitu saja.

…………………………………………

Waktu makan malam Pak Harto dan putra serta putrinya makan bersama di ruang makan rumah keluarga itu…

“Nu, daging ayamnya tadi jadi gak digoreng nichh ceritanya???” Kirana, kakak Danu, memecah keheningan yang disebabkan wajah masam Danu yang sepertinya masih ia pertahankan sedari pulang sekolah, tanda tingkat rasa sebelnya melampaui level-level yang pernah ada…

“Enggak, tadi beli rujak cingur di warung mbak Asih di perempatan jalan itu, padahal pengen banget ayam goreng tadi…”, timpal Danu, masih dengan wajah masam dan marahnya, “kalau gak karena lapar pasti Danu nggak bakalan makan sampai mbak Kiran datang, tapi karena ayah nyuruh nyapu, dan nguras bak kamar mandi, Danu jadi lapar, terpaksa dechh beli makanan yang tempatnya paling dekat, yaitu rujak cingurnya Mbak Asih…”

Kiran masih tenang-tenang saja menghadapi kemarahan Danu yang ternyata masih belum berakhir, ” makanya Nu, sekali-sekali bantuin Bunda nggerjain kerjaan rumah, biar gak manja, dikit-dikit Bunda ini… Bunda itu… Masak mau begitu terus sampai gedhe, sekarang kan Danu sudah SMP, jadi waktunya belajar tahu kerepotan Bunda di rumah, setidaknya kamu bisa ngerjain kerjaan yang ringan-ringan, kayak cuci baju seragam sendiri, sepatu sendiri, nyetrika sendiri… Jadi bisa meringankan kerjaan Bunda,,, iya kan Yah???!!!”, masih dengan senyuman Kirana meminta pendapat ayahnya.

“Betul sekali apa yang dikatakan Mbak Kiran Nu, kamu manjanya sudah sangat parah, dengan perginya Bunda sementara ke rumah eyang, mungkin bisa bikin kamu lebih mandiri dengan hal-hal yang memang harus bisa kamu lakukan…”

Danu hanya diam mendengarkan nasehat ayah juga kakaknya, dalam hatinya ia membenarkan semua yang disampaikan ayah juga kakaknya, selama ini ia sudah sangat manja pada Bundanya yang sangat sabar menghadapinya itu, seluruh keperluan sekolahnya ia pasrahkan pada bundanya, tanpa tahu sebenarnya pekerjaan Bunda di rumah sudah sangat banyak selain mengurusi tetek bengek kerpeluan Danu, iya benar sudah saatnya ia sekarang belajar mandiri, malah kalau bisa ia pengen membantu Bundanya mengerjakan pekerjaan rumah yang ia bisa kerjakan.

Bunda pasti sangat capek, aku saja yang nyapu-nyapu sekali dan menguras bak mandi sekali ini saja merasa sangat capek, padahal Bunda mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah, belanja, memasak, mencuci, nyetrika, dan masih banyak lagi, sendirian, pasti sangat capek sekali, tapi bunda gak pernah ngeluh… Lagi pula akhir-akhir ini Kak Kiran sangat sibuk mempersiapkan UAN, dan itu membuatnya jarang bantu bunda seperti biasanya, harusnya sekarang Danu yang bantu Bunda, batinnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s