Ketika Flu Melanda

Beberapa hari kemarin saya berada di Ambulu, di rumah Abah Ibu saya. Dan ternyata bukan liburan seperti yang saya agendakan dari waktu berangkat acaranya di sana, malah ternyata saya kesana waktu ibu sedang ada acara maraton dari Hari Kamis hingga tadi ketika saya berangkat acara yang ada di rumah belum selesai. Dari acara keluarga selametan kirim do’a ke mbah Hari Kamis, pertemuan teman-teman Abah Ibu yang mau berangkat haji tahun ini (insyaAlloh), hingga pengajian di Malam Minggu nya, dan tadi acara pertemuan bapak-bapak, bisa dibayangkan bagaimana repotnya ibu di rumah.

Ya, tapi bagaimanapun sibuknya ibu, saya tetap harus kembali ke Jember, di mana tempat saya seharusnya berada, ibarat kata “liburan telah usai”, karena memang banyak hal yang menanti saya di Jember, buku yang harus segera saya kembalikan ke pusda, pekerjaan rumah yang selalu setia menunggu untuk dikerjakan, lagu-lagu yang hanya bisa dinikmati lewat hp suami saya (harus streaming), dan masih banyak lagi. Yang terakhir intermezzo ya (bukan termasuk kewajiban melainkan selingan ^^).

Selama acara di rumah ibu, banyak tetangga yang membantu, dan putri saya, Nay, tentu sangat senang sekali, karena biasanya tetangga yang membantu ibu juga membawa anaknya ketika datang ke rumah. Jadi, Nay bisa bermain sepuasnya dengan teman barunya.

Teman barunya Nay ternyata dalam kondisi yang kurang fit saat bertemu di hari pertama, dan sakit di hari setelahnya, saya hanya berdo’a saat Nay bermain dengannya supaya Nay diberi ketahanan tubuh yang baik jadi tidak ikut sakit, tapi ternyata ketika menjelang pulang (tadi malam) mulai terlihatlah jikalau ketahanan tubuh Nay tidak dalam kondisi baik, itulah sebabnyan dari tadi malam dia mulai menunjukkan gejala hidung mampet hingga sekarang masih tidak begitu nyaman dengan berbagai posisi tidurnya, hidungnya buntu.

Kadang ketika melihat anak sakit, pengen sekali bisa menggantikan sakitnya pada tubuh kita saja, tapi jika begitu pertahanan tubuhnya tidak akan kuat. Saat tubuh menunjukkan gejala panas, hidung meler, batuk, itu sebenarnya adalah salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri untuk melawan benda asing (virus atau bakteri) yang masuk ke dalam tubuh. Bahkan saya pernah membaca artikel yang membahas tentang bagaimana sebaiknya ketika anak sakit, yaitu dengan tidak langsung memberinya obat apalagi antibiotik, itu semua bertujuan untuk memberikan kesempatan tubuh untuk membentuk pertahanan dirinya.

Kertika Ada Anak Sakit

Ketika ada anak sakit memang sebaiknya dipakaikan masker (sakit flu), karena memang sangat baik tujuannya, selain untuk mencegah debu masuk hidung, masker juga bisa melindungi diri pemakai dari menyebarkan flu. Sehingga cukup satu orang saja yang sakit, tidak sampai menular ke temannya.

Tapi, tentu saja hal tersebut masih sangat sulit diterapkan pada masyarakat kita, jika kita misalnya saja memaksa anak tetangga yang sedang sakit untuk memakai masker, wah bisa saja tetangga tersinggung, karena memang belum ada budaya mengenai pemasangat masker saat flu. Jadi, memakai masker itu adalah sesuatu yang masih lumayan tabu jika untuk orang sakit biasa.

NB: tulisan ini saya buat saat menjelang tidur, di samping suami juga putriku yang sedang dilanda flu juga pilek…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s