Kopi dan Kopi

Kopi, mengenalnya, dan menyadari adanya.

Sejak menikah, aku ingin belajar membuat kopi yang enak… Karena suamiku adalah seorang penikmat kopi.

Oh iya sebenarnya hari ini, kenapa menjadi semacam “Hari Kopi” untukku karena dari pagi aku sudah dihadapkan dengan perbincangan mengenai “kopi”, saat membuatkan kopi suami, emak (neneknya suami, yang berarti nenekku juga yang lebih sering dipanggil emak), yang saat menyeduh kopi mengungkapkan kekecewaannya atas rasa kopi “sekarang” yang tidak sama dengan dulu-dulu. Aku yang tidak begitu mengerti kopi, hanya menyimpan tanya dalam hati, “apa iya??? mungkin saja iya, karena aku bukan penikmat kopi sejati seperti emak, jadi aku gak tahu, atau lebih tepatnya gak menyadarinya.

Tiap pagi selepas sholat Subuh, aku biasanya menyalakan kompor untuk memasak air, sambil menunggu air mendidih aku mengambil beras untuk ditanak, membersihkannya kemudian menanaknya di di dalam dandang, setalah itu meracik gula dan kopi untuk diseduh dengan air… Tanpa ukuran yang pasti tentunya, aku suka bagian ini, terkadang racikan kopi dan gulanya terasa sedikit pahit, terkadang juga terlampau manis, aku suka meraciknya dengan ilmu kira-kira, karena tiap hari ada kopi dengan rasa berbeda dengan cinta di dalamnya… Bagian yang terakhirlah yang tetep sama, cinta dalam racikan kopi di pagi hari… ^^ untuk suami…

Cerita tentang kopi masih berlanjut hingga siang, saat aku hampir putus asa karena gak ada orang yang bisa nganter ke perpusda, ternyata ada keponakanku ngajak servis sepeda, dan juga mau nganter aku ke pusda, di sanalah aku ketemu dengan “kopi” selanjutnya dalam bentuk buku, ya aku ketemu dengan buku “Filosofi Kopi” nya Dee.

Aku merasa hari ini benar-benar “hari yang penuh dengan kopi dan kopi” ^^.

Di hari penuh kopi,
Gebang, 7 Januari 2015

Baca Cerita Remaja itu….???

Baca cerita remaja itu jadi ingat pas waktu SMA, tapi kisah SMA ku gak begitu rame dengan kisah cinta-cinta ala remaja, malah kental dengan cinta dengan sahabat, sering diskusi banyak hal dengan teman-teman, dan memang kala itu masih membentengi dengat “pusat rotasiku di masa lalu”. Saat SMA aku selalu bilang pada diriku, “jika aku gak dapat seseorang yang seganteng dan sepinter ia…”, atau bahkan “… Kalau bukan dia, maka gak…” Mungkin hatiku begitu, seseorang yang sunggu aku merasa sulit teraih, bahkan meski hanya sekedar menyapanya… Owhhhhh… Padahal mencintai itu tentu bukan karena ganteng dan embel-embel lainnya, hanya karena “cinta” kan, waktu SMA sebenarnya aku tidak memiliki kriteria seseorang yang “… Aku jatuh cinta padanya…” Tapi, lagi-lagi demi membentengi diriku untuk gak pacaran aku berkilah begitu… Jadilah masa SMA ku gak rame dengan “kisah cinta”, karena dalam hati entah bagaimana kerjanya “pusat rotasiku” masih tetap sama, bahkan ketika aku tidak menyebutnya dalam do’a-do’aku seperti dulu, ia tetep hadir, hadir di sela-sela tiap do’a meski kadang samar.

Jadi, ingat film “a crazy little thing called love”, setelah nonton film itu aku jadi sadar akan sesuatu, segala sesuatu dalam hidup ini harus disyukuri bahkan ketika dulu sesuatu itu terasa sangat memalukan “a crazy little thing”, tapi sekarang “a crazy little thing” itu malah akan menjadi kenangan tak terlupakan, suatu hal gila yang di luar nalar yang kita lakukan (tapi masih dalam batas ya…). Terang-terang ditolak, dan tetep melakukan tips-tips dari teman untuk nunjukin kalau lo itu sayang banget sama someone, sungguh sangat memalkukan… Tapi, ya bagaimana lagi itu adalah masa remaja yang tak terlupakan…

*Terima kasih untuk gerimis di sore hari kala itu, sehingga aku bisa tahu bahwa cowok berbaju pink yang bermain bola di bawah gerimis itu…. “Handsome” seperti kata laili…

*untuk cinta tak kan pernah terlupakan saat SMP, my “crazy little thing”