Aku dan Buku “Sepotong Hati yang Baru”

Buku yang sangat menakjubkan menurutku. Aku yang sangat terbiasa membaca cerita yang mudah ditebak ceritanya, tiba-tiba serasa gmn gt saat membaca buku ini, karena memang ceritanya tak tertebak hingga kita mendekati akhir. Dan itu sungguh-sungguh sangat menakjubkan…

Buku “Sepotong Hati yang Baru” ini adalah buku kumpulan cerpen, yang tiap cermen di dalamnya menurutku sangat-sangat sarat akan makna, pesan yang pengen disampaikan penulis sesuai dengan apa yang terjadi belakangan ini di kalangan anak muda, mulai dari galau sampai susah move on.

Meski belum baca keseluruhan ceritanya aku tidak ingin hanya membaca begitu saja, karena itulah aku ingin menuliskan sedikit hal tentang cerpen-cerpen itu (yang telah ku baca).

Dimulai dari cerpen yang pertama, “Hiks, Ku Pikir itu Sungguhan”, melalui cerpen ini penulis (Tere Liye) sepertinya bener-bener ingin menekankan bahwa anak muda terutama cewek haruslah membentengi dirinya dari rasa “GR” berlebih, karena terkadang rasa itu bisa berakhir menyakitkan ketika tidak sesuai dengan harapan, “jangan mudah GR” itulah pesan yang disampaikan penulis dalam cerpen pertama di buku ini, ada kata-kata yang sangat menarik dari cerpen ini :

“…Hiks, apa yang pernah ku bilang pada Putri? Makanya siapa suruh GR? Maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena sinar matahari. Bagai debu yang disiram air. Musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?”

Kata-kata di atas sungguh mampu menjelaskan betapa pentingnya untuk tidak mudah GR atas perlakuan orang lain.

Cerpen kedua, “Kisah Sie-Sie”, dari judulnya saja kita sudah tahu bahwa cerpen ketiga ini menceritakan tentang kehidupan Sie-Sie, memperjuangkan hidup juga cintanya, juga kesetiaannya pada suatu pernikahan, dan keyakinan akan kemampuannya memenuhi janjinya pada ibunya. Ini adalah salah satu cerpen yang bikin aku mrebes mili mendekati akhir cerita, banyak hal yang bisa kita ambil dari cerpen kedua di buku ini, karena itu membaca sendiri sangat disarankan.

Cerpen ketiga, “Sepotong Hati yang Baru”, cocok dibaca siapa saja, dan terkhusus bagi siapa saja yang belum bisa atau sulit move on. Aku tertarik dengan buku ini salah satu sebabnya selain baca nama penulisnya juga karena tertarik dengan judulnya, “Sepotong Hati yang Baru,” bagaimana menyikapi “patah hati” yang parah ada di buku ini. Berikut cuplikan yang yang sangat menarik menurutku:

“Apakah…, di hatimu masih tersisa namaku,” Suara Alysa kalah oleh desau angin. Tertunduk.

Aku mengingit bibir, menggeleng,”Kau tahu, saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati ini sudah rusak, tidak utuh lagi. Maka aku memutuskan membuat hati yang baru. Ya, hati yang benar-benar baru.” (Sepotong Hati yang Baru: Tere Liye, hal. 50)

Nah, dari kutipan itu ada yang bisa kita ambil, yaitu tentang bagaimana move on dari patah hati yang parah, yaitu dengan mengganti hati kita dengan hati yang baru (makna konotasi), yang dalam arti kata lain dengan menutup buku tentang masa lalu dan fokus untuk memulai lagi hal-hal baru pada buku yang masih kosong di depan kita, merefresh hati kita kembali supaya tidak terus berada pada masa lalu.

Ya, begitulah sedikit kata-kata dari ku setelah membaca beberapa cerpen di buku ini. ^^

Lanjut baca lagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s