Sebuah Diskusi Kecil

Tadi malam saya membaca suatu kisah hikmah di fb yang judulnya Setan dan Temannya

Yang isinya seperti berikut:

SETAN DAN TEMANNYA

Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

‘Apa yang ditemukan orang itu?’ tanya si teman.

‘Sekeping kebenaran,’ jawab setan.

‘Itu tidak merisaukanmu?’ tanya si teman.

‘Tidak,’ jawab setan. ‘Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.’

Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya. ‼●

(Burung Berkicau, Anthony de Mello)

……………………………

Membaca kisah di atas aku teringat suatu perdebatan kecil dengan temanku, di hari yang lampau saat sedang dalam masa-masa praktek kuliah. Malam itu karena sedang sepi, pasien sedang istirahat semua, aku pergunakan kesempatan jaga, daripada diam gak ngapa-ngapain, aku membaca sebuah buku dari penulis favoritku, aku senang sekali membaca tulisan-tulisannya. Temanku melihat apa yang ku baca, dan jadilah beberapa dialog singkat bahas sesuatu:

“Lho kamu kok bisa seneng sama orang itu An? Dia itu lho orang yang plural,” tanya temanku sambil membuka acara diskusi tak sengaja kami.

“Aku suka mbak, suka tulisan-tulisannya, yang jelas yang paling aku suka di setiap tulisannya itu lho selalu ngingetin kita buat tidak berhenti belajar, belajar apa saja, beragama, juga terus mengenali diri, dsb…” Jawabku…

“Bech An, wes bukan masanya kita untuk mengenali diri sendiri, sudah saatnya kita menjalankan apa yang memang sudah benar ada, (tinggal menjalani kebenaran yang memang sudah ada), masa mengembangkan diri dengan kebenaran yang ada, wes bukan masanya mengenali diri.” Kurang lebih begitu katanya, bahwa kita sudah harus berada pada suatu yang disebut “kebenaran”, jadi wes gak perlu mencari apa-apa… Begitu intinya.

“Lho kok gt mbak, dalam hidup kita itu tidak pernah berhenti belajar, kalau berhenti berarti sudah merasa benar kn???”… (Itu yang ku tangkap dari apa yang disampaikan temanku itu)

Ya begitulah… Sampai akhirpun ia ingin saya sepaham dengannya, tapi saya putuskan untuk berhenti berdebat… Dan membicarakan hal lain di sela-sela kegiatan praktek kami malam itu. ^^

………………….

Sampai sekarangpun saya tetap berkeyakinan bahwa dalam hidup ini kita tidak akan pernah berhenti belajar dan mengenali diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s